Misi Rahasia Kapten Sutiyoso: Menyamar Jadi Kuli Bangunan Di Jantung Wilayah Musuh Timor Timur

banner 120x600

JAKARTA, KDSP82NEWS.WEB.ID – Nama Sutiyoso dikenal luas sebagai salah satu perwira terbaik yang pernah dimiliki Korps Baret Merah. Sebelum menjadi Pangdam Jaya, Gubernur DKI Jakarta, hingga Kepala BIN, ia adalah seorang prajurit Kopassus yang berulang kali menjalankan misi berisiko tinggi di medan operasi.

Salah satu kisah paling dramatis dalam perjalanan militernya terjadi pada penghujung tahun 1974, menjelang pelaksanaan Operasi Seroja di Timor Timur. Saat itu, Sutiyoso yang masih berpangkat Kapten dan bertugas sebagai perwira intelijen Kopassus mendapat tugas khusus dari L.B. Moerdani untuk melakukan penyusupan ke wilayah perbatasan Timor Timur.

Misi tersebut bukan sekadar operasi pengintaian biasa. Sutiyoso menjadi salah satu personel pertama yang dikirim untuk mengumpulkan informasi strategis mengenai kondisi medan, kekuatan lawan, sistem pertahanan, hingga jalur-jalur yang dapat digunakan dalam operasi militer yang sedang dipersiapkan Indonesia.

Risiko yang dihadapinya sangat besar. Jika identitasnya terbongkar, nyawanya hampir pasti terancam. Bahkan dalam kisah yang kemudian diceritakan dalam biografinya, Sutiyoso menyadari sepenuhnya bahaya yang menanti.

“Jika saya tertangkap, saya tidak akan kembali hidup.”

Berbekal keberanian dan kemampuan intelijen, ia menyamar sebagai seorang mahasiswa yang sedang melakukan penelitian. Dengan identitas samaran tersebut, ia bergerak menuju wilayah perbatasan melalui medan pegunungan yang berat dan penuh bahaya.

Bersama seorang penerjemah, Sutiyoso menunggang kuda melintasi bukit-bukit terjal di sekitar Atambua. Hujan deras, sungai yang meluap, rasa lapar, dan dinginnya malam menjadi bagian dari tantangan yang harus dihadapinya selama menjalankan misi.

Dari titik-titik pengamatan di perbukitan, ia menggunakan teropong kecil untuk mempelajari posisi-posisi pertahanan lawan serta mencari celah yang dapat dimanfaatkan dalam operasi militer di masa mendatang.

Namun keberanian Sutiyoso tidak berhenti di situ.

Setelah memperoleh informasi awal, ia kembali menjalankan misi yang lebih berbahaya. Kali ini ia menyusup ke kawasan Batugade, wilayah yang berada di bawah pengawasan ketat aparat Timor Portugis. Untuk menghindari kecurigaan, ia menyamar sebagai kuli bangunan yang membantu mengangkut barang milik para pedagang Tionghoa.

Dengan pakaian sederhana dan penampilan yang sengaja dibuat menyerupai pekerja kasar, Sutiyoso berhasil berbaur dengan masyarakat setempat. Ia mengamati aktivitas militer, pergerakan pasukan, jenis persenjataan yang digunakan, hingga tata letak benteng pertahanan musuh.

Dalam salah satu momen paling menegangkan, sebuah helikopter dari Dili mendarat membawa polisi militer yang melakukan pemeriksaan terhadap para pendatang. Situasi itu bisa saja mengakhiri misinya dalam sekejap. Namun berkat penyamarannya yang rapi dan sikap tenang yang ia tunjukkan, identitasnya tidak pernah terungkap.

Dari operasi rahasia tersebut, Sutiyoso berhasil membawa pulang informasi penting mengenai kekuatan dan kelemahan pertahanan lawan, termasuk jalur-jalur strategis yang dapat digunakan untuk memasuki wilayah Batugade apabila operasi militer dilaksanakan.

Keberhasilan misi ini menjadi salah satu fondasi penting dalam penyusunan rencana operasi yang kemudian dikenal sebagai Operasi Seroja. Kisah tersebut juga memperlihatkan karakter Sutiyoso sebagai prajurit intelijen yang tidak hanya mengandalkan keberanian, tetapi juga kecerdikan, kesabaran, dan kemampuan membaca situasi di medan yang sangat berbahaya.

Bagi banyak prajurit Kopassus, kisah penyamaran Sutiyoso sebagai mahasiswa dan kuli bangunan di wilayah musuh merupakan salah satu contoh nyata bagaimana operasi intelijen sering kali menuntut keberanian yang sama besarnya dengan pertempuran di garis depan.

 

 

 

Red: kdsp82news.web.id

Sumber : Sindonews.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *